Kisah Nabi Musa as bin Imron

Kategori: Tarikh & Sirah Diterbitkan: Senin, 09 Januari 2017 Ditulis oleh ibnuhamim

cerita nabi

Cerita Lengkap Nabi Musa – Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya’qub beribukan Yukhabad. Beliau manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS, yaitu tanah Kanaan. Ia diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM.

Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara dengan Allah). Musa merupakan figur yang paling sering disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta termasuk golongan Ulul Azmi.

Nabi Musa harus melewati berbagai macam rintangan sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk membebaskan kaum Bani Israel. Misalnya, hampir dibunuh ketika ia masih bayi, dikejar-kejar oleh Fira’un, sampai harus menjalani hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.

Nabi Musa as merupakan anak laki-laki Imron bin Yash-har, dan bersaudara dengan Nabi Harun as serta Miryam. Nabi Musa dilahirkan pada waktu zaman raja yang sangat zalim yaitu Fir’aun sebagai penguasa Mesir dan disembah oleh orang-orang Mesir.

Hingga tibalah suatu masa kaum Bani Israel semakin banyak dan semakin menyebar. Raja Fir’aun yang kafir, bengis dan menganggap dirinya Tuhan itu melihat bahwa Bani Israel semakin banyak dan semakin berkembang. Pada suatu malam, Fir’aun bermimpi bahwa mahkota yang dipakainya hilang. Untuk mengartikan mimpi tersebut, Fir’aun memanggil ahli ramalnya. Berdasarkan ramalan, mimpi itu disebut merupakan pertanda bahwa pada suatu masa kekuasaan raja akan terancam oleh seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi akan dilahirkan. Mendengar arti mimpi tersebut, Fir’aun kemudian memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di negerinya.

Namun para penasehat dan pakar ekonomi kerajaan berkata kepada Fir’aun; Orang-orang tua dari Bani Israel akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak kecil disembelih, maka ini akan berakhir pada hancurnya dan binasanya Bani Israil. Tetapi Firaun akan kehilangan kekayaan dan asset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi budak-budaknya serta wanita-wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai berikut: anak laki-laki disembelih pada tahun pertama, dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya. Fir’aun pun setuju dengan pendapat itu, karena mengganggap pemikiran itu lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.

 

Dilihat: 185