SA’ID BIN AL-MUSAYYIB Ulama, Pelita Dalam Kegelapan

Kategori: Tarikh & Sirah Diterbitkan: Senin, 07 Mei 2018 Ditulis oleh shahibmuslim

EDISI 03 SIROH 1439 H

Para pembaca yang mulia, Allah telah menganugerahkan bagi umat ini generasi terbaik yang mewariskan kemurnian agama-Nya. Dengan berlalunya masa Rasulullah dan para shahabat, Allah menciptakan manusia-manusia pilihan yang hidup pada generasi setelahnya. Para tabi’in, barisan ulama yang mengambil ilmu dari para shahabat Nabi yang mulia.

 

      Satu di antara mereka adalah tokoh besar yang bernama Sa’id bin al-Musayyib. Mungkin, sebagian kaum muslimin belum seberapa mengenal sosoknya. Namun, dengan keluasan ilmu serta keteladanan yang beliau miliki, demikian masyhur di kalangan para ulama Ahlus Sunnah.

Mengenal Sa’id bin al-Musayyib

      Beliau adalah Abu Muhammad, Sa’id bin al-Musayyib. Berasal dari suku Quraisy, keturunan dari Bani Makhzum. Seorang yang sangat berilmu di antara penduduk kota Madinah serta pemuka para tabi’in di masanya.

      Beliau dilahirkan pada tahun 15 Hijriah, setelah pemerintahan ‘Umar bin al-Khaththab berjalan dua atau empat tahun. Ayah dan kakeknya adalah shahabat Rasulullah. Sa’id tumbuh dalam suasana keilmuan, perjalanan hidupnya dipenuhi dengan mempelajari ilmu dan mengajarkannya.

      Beliau senantiasa memakai jubah berwarna putih, merapikan kumisnya, serta tidak mengubah warna uban yang memenuhi kepala dan jenggotnya. Sa’id menamai putra-putranya dengan nama-nama para Nabi.

      Sifat-sifat yang terpuji melekat pada pribadi beliau. Seorang yang cerdas, sangat kuat dalam menghafal, kokoh dalam berpegang terhadap kebenaran yang diyakininya. Tak hanya itu, Sa’id merupakan figur yang penuh kesabaran.

Keluasan dan Kedalaman Ilmunya

      Sungguh Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba yang beriman dan melebihkan orang-orang yang berilmu di antara mereka. Hal inilah yang tampak pada diri Sa’id. Sejak kecil beliau telah berjanji untuk menuntut ilmu agama.

      Dalam perjalanan keilmuannya, Sa’id berguru kepada para shahabat besar; ‘Utsman bin‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaib bin Tsabit, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan selainnya. Beliau juga mempelajari ilmu dari Ummul Mukminin ‘Aisyah dan juga Ummu Salamah. Sa’id adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits dari Abu Hurairah yang tak lain adalah mertuanya. Pernikahannya dengan putri Abu Hurairah menjadikan beliau orang yang paling memahami hadits-hadits yang diriwayatkan darinya.

      Sejak usia muda, Sa’id banyak melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan hadits Nabi. Beliau pernah bertutur, “Apabila aku tidak mengetahui suatu hadits, sementara di tempat lain ada yang mengetahuinya, tentulah aku akan berjalan beberapa hari dan malam untuk mencari satu hadits tersebut.”

      Pada puncaknya, Sa’id menjadi satu dari al-Fuqaha’as-Sab’ah (Tujuh Ulama Ahli Fikih) di kota Madinah. Bahkan disebutkan bahwa beliau adalah pemuka para ahli fikih, serta paling tahu tentang hukum halal dan haram.

      Sa’id bin al-Musayyib menjadi seorang mufti yang memberikan fatwa dalam keadaan para shahabat masih hidup. Jika Abdullah bin‘Umar mendatangi beliau, tentu akan bertanya tentang keputusan-keputusan‘Umar. Karena memang, Sa’id adalah orang yang paling tahu tentang keputusan-keputusan yang telah diambil oleh Abu Bakr, ‘Umar dan‘Utsman.

Ibadah dan Wara’nya (Sikap Kehati-hatian)

     Sa’id bin al-Musayyib ibarat cermin bagi diri-diri yang jujur dalam keimanan. Keilmuannya yang dalam, mewujud dalam amal perbuatan yang demikian memukau. Beliau adalah seorang hamba yang berbahagia dengan ketundukan dan ketaatan kepada Rabbnya. Seorang hamba yang menjaga diri dari kemaksiatan serta kesenangan dunia yang melalaikan. Ungkapan yang selalu diulang-ulangnya adalah, “Tiada yang lebih membuat seorang hamba berwibawa selain ketaatan kepada Allah, dan tiada yang lebih membuatnya hina daripada kemaksiatan kepada-Nya.”

      Inilah Sa’id bin al-Musayyib. Beliau biasa berpuasa di siang hari dan shalat malam di tengah kegelapan malam. Beliau senantiasa berpuasa, apabila matahari tenggelam maka beliau datang ke masjid dengan membawa minuman dari rumah dan meminumnya. Kesehariaannya hanya beredar antara masjid dan rumahnya. Beliau banyak mengerjakan shalat, berzikir, membaca al-Qur’an, serta mengajarkan ilmu agama.

      Sa’id bin al-Musayyib senantiasa menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Beliau tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah selama 40 atau 50 tahun. Selama 30 tahun, tidaklah muadzin mengumandangkan adzan melainkan beliau telah berada di masjid. Tak hanya itu,  beliau selalu berada di shaf pertama.

      Sa’id seorang yang merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Beliau tidak bermudah-mudahan mengambil pemberian begitu saja dari manusia. Sa’id pernah memiliki barang perniagaan senilai 400 dinar untuk berdagang minyak. Beliau pernah berkata, “Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan hartanya dengan cara yang halal, lalu memberikan sebagian darinya sebagai hak hartanya dan menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.”

      Demi mendapatkan kemudahan dalam meraih ilmu, beliau pun memilih menikah dengan putri gurunya, Abu Hurairah yang hidup dalam kefakiran. Padahal, sangat mungkin bagi beliau mendapatkan istri bernasab mulia dari kalangan Quraisy sebagaimana kedudukan beliau sendiri.

    Hal ini pula yang Sa’id pilihkan untuk putrinya. Mengutamakan agama dan kehidupan akherat daripada kesenangan dunia. Tersebutlah kisah penolakan beliau terhadap pinangan khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan untuk al-Walid, putranya. Seorang ayah yang mengkhawatirkan keteguhan agama putrinya, lantaran gelimang harta dan kemewahan sebagai istri khalifah.

      Menakjubkan, beliau justru menikahkan putrinya dengan Ibnu Abi Wada’ah, seorang yang tekun menghadiri majelis ilmu di Masjid Nabawi dan paling sering mengikuti majelis Sa’id bin al-Musayyib. Seorang fakir yang baru saja menduda, menikahi putri tokoh terkemuka hanya dengan mahar dua dirham saja.

      Sa’id demikian menjaga agamanya. Di antara ucapan beliau, “Tidaklah setan berputus asa dari sesuatu perkara melainkan dia akan datang dari arah kaum perempuan.Sampai-sampai beliau berkata pula, “Tidak ada (cobaan) yang lebih aku takutkan daripada kaum wanita.” Ketika itu beliau telah berusia 84 tahun dan telah buta sebelah matanya.

Keteguhan dan Kesabaran Beliau

  1. Allah telah mengaruniakan bagi Sa’id pemberian yang sangat besar berupa sifat sabar. Terlebih, beliau hidup di masa kekhalifahan Bani Umayyah yang sarat dengan cobaan. Sebagai seorang tokoh dan ulama terkemuka, keteguhan beliau dalam memegang prinsip teruji dengan berbagai kezhaliman penguasa.
  2. Ketika khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan mendapatkan penolakan atas pinangannya terhadap putri Sa’id, menjadi murkalah dia. Sambil terus memaksa, ‘Abdul Malik menjatuhkan hukuman terhadap Sa’id. Beliau harus menahan sakit dan pedihnya 100 kali cambukan di tengah cuaca yang begitu dingin, diikuti guyuran air, serta dipakaikan jubah dari kulit.
  3. Pada kali yang lain, beliau kembali mendapatkan siksaan dari penguasa tanpa sebuah kesalahan. Beliau dicambuk 60 kali, dihinakan dengan diarak keliling mengenakan celana dari bulu, kemudian beliau dijebloskan ke dalam penjara. Bahkan penguasa kala itu melarang umat manusia untuk berbicara dengan beliau.
  4. Hebat! Sosok yang teguh memegang prinsip. Bersamaan dengan itu, keilmuan dan kesabarannya menghalangi beliau untuk bersikap menentang terhadap penguasa kaum muslimin. Seorang tokoh sekaliber Sa’id mungkin saja menggalang kekuatan melawan penguasa. Bisa saja beliau menebar opini, menjatuhkan wibawa pemerintah. Namun beliau memilih bersabar atas kezhaliman tersebut sesuai dengan tuntunan Nabi.
  5. Hendaknya kaum muslimin meneladani sikap mulia ini, yang bersumber dari bimbingan Nabi. Hendaknya tidak gegabah dalam menyikapi kezhaliman pemerintah. Sebaiknya, sikap bermudah-mudahan menyebarkan kesalahan pemerintah apalagi sampai bertindak anarkis menentang pemerintah, merupakan sikap dan tindakan yang jauh dari bimbingan Nabi dan teladan para ulama salaf.
  6. Ketika pemerintahan dipegang oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dikenal keshalihannya, Sa’id senantiasa membantu Sang Khalifah dengan keilmuan beliau. Bahkan, tidak berat bagi beliau menghadap kepada Amirul Mukminin tatkala dibutuhkan pendapatnya. Di kemudian hari, kemungkaran-kemungkaran mulai mewarnai roda pemerintahan Bani Umayyah. Sa’id bin al-Musayyib senantiasa teguh memegang prinsip kebenaran yang diyakininya.

Akhir Kehidupannya

      Allah mengaruniakan usia panjang kepada beliau, hingga beliau pun mencapai masa tua. Usia yang penuh dengan kebaikan.

      Menjelang wafatnya, Sa’id jatuh sakit. Sakit yang parah sampai membuatnya pingsan. Waktu itu Nafi’ bin Jubair menjenguknya, lalu menyampaikan kepada kerabat Sa’id agar menghadapkannya ke arah kiblat. Mereka pun melakukannya. Setelah siuman beliau mengatakan kepada mereka, “Apabila aku tidak berada di atas kiblat dan jalan yang lurus, demi Allah, niscaya tidak akan bermanfaat penghadapan kalian pada tempat tidurku (ke arah kiblat).”

      Tatkala beliau mengalami sakaratul maut, Sa’id masih meninggalkan uang seratus dinar untuk keluarganya. Lalu beliau berseru kepada Rabbnya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa tidaklah aku meninggalkan dinar-dinar ini melainkan agar aku bisa menjaga keluargaku dan agamaku.”

      Pada tahun 94 Hijriah, hamba yang shalih ini menghadap Rabbnya. Tahun tersebut dikenal juga dengan Tahun Fuqaha’ dikarenakan sejumlah ulama ahli fikih meninggal di tahun itu.

      Sa’id bin al-Musayyib wafat pada usia 79 tahun. Semoga Allah merahmatinya.

      Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis: Ustadz Muhammad Hadi

Dilihat: 79