Seimbang antara Ilmu dan Jihad Ciri Mujahid Sejati

Kategori: Tarbiyah-Akhlak Diterbitkan: Minggu, 26 Februari 2017 Ditulis oleh granadaperpustakaan

Kiblat.net – Perjuangan mengembalikan kejayaan Islam bukanlah hal yang mudah. Tidak hanya bermodal semangat membara dan menyala-nyala. Melainkan juga membutuhkan generasi yang siap dan mumpuni untuk memanggul beban perjuangan di pundak mereka.

Rasulullah telah berhasil membangun tatanan masyarakat Islam hingga menguasai Jazirah Arab dan akhirnya mendunia saat ini. Hal itu bermula dari keberhasilan Rasulullah menempa para sahabat menjadi Qaidah Shalabah(Barisan inti) . Berlanjut generasi-generasi setelahnya dan Islam mengalami pasang surut kejayaan.

Islam pernah mencapai puncak keemasan pada zamannya. Namun, saat ini kaum muslimin kehilangan kedigdayaan karena nihilnya generasi dan pemimpin yang mampu mengangkat kembali kejayaan Islam. Kita mengenal tokoh-tokoh yang mampu membuat Islam kembali berjaya misalnya Sulthan Yusuf bin Ayyub bin Syadiy At-Tikritiy AL-Kurdiy atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau terlahir bukan dari ruang kosong dan muncul secara tiba-tiba. Shalahuddin muncul karena memang dipersiapkan untuk perjuangan pada saat itu.

Seorang pemimpin yang muncul di tengah umat tidak dapat dipisahkan dari dinamika di tengah umat itu sendiri. Kemunculan Shalahuddin tidak mungkin tanpa didahului oleh suatu proses di tengah umat yang menciptakan tuntutan adanya pemimpin yang sesuai dengan keadaan riil yang diperlukan umat.

Belajar dari lahirnya tokoh Shalahuddin Al-Ayyubi

Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam karyanya “Shalah Ad-Din Al-Ayyubi;Bathal Hiththin wa Muharrir Al-Quds Min Ash-Shalibiyyin (532-589 H) menuliskan dengan apik tentang perjuangan sang sultan membebaskan Al-Quds. Juga tentang pendidikan Shalahuddin sebelum menjelma menjadi pemimpin yang tangguh dan ditakuti musuh-musuh Allah.

 

Sejak kecil Shalahuddin hidup dalam lingkungan keilmuan. Ia selalu mendatangi tempat kajian belajar, menulis dan menghafal Al-Quran. Selain itu, ia juga belajar kaidah bahasa dan dasar-dasar ilmu Nahwu. Memang saat itu Damaskus menjadi pusat ilmu karena reformasi pendidikan yang dilakukan oleh Nuruddin Mahmud Zanki.

Nuruddin membuka lebar-lebar masuknya para ulama dan menyediakan madrasah-madrasah bagi para pewaris Nabi ini. Sehingga bibit-bibit muda memang hidup dalam nuansa keilmuan yang kental. Tak lupa, Nuruddin melanjutkan apa yang dilakukan ayahnya, yaitu melengkapi akademi militer dengan mata kuliah Nidhom Al-Askariyah Al-Islamiyah. Jadi, akademi militer tak hanya mengajarkan strategi peperangan semata, melainkan juga mendidik mujahid dengan pengerahan irodah yang benar dalam melaksanakan tugas dan mendisiplinkan dalam penertiban ibadah. Secara tidak langsung, anak-anak muda Islam ditempa dengan kemiliteran dan perbaikan ruhani.

Buah dari kerja keras ini pun bisa kita lihat sendiri. Kembalinya Al-Quds ke pangkuan kaum muslimin dan supremasi muslim benar-benar nyata saat itu.

 

Dilihat: 132